Pada masa sekarang ini, kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan akan peralatan-peralatan elektronik. Apalagi di kota-kota besar, penduduknya secara umum pasti telah mengenal televisi, komputer, video game, kalkulator, jam digital, dan lain-lain.
16.5.12
Kilby si Pengubah Dunia
Heisenberg Fisikawan Ahli Matematika
Werner Heisenberg dilahirkan pada tanggal 5 Desember 1901 di Würzburg, Jerman. Werner ini jagoan bahasa Yunani dan Latin karena ayahnya, August, bekerja sebagai guru bahasa klasik tersebut. Waktu pertama kali ia masuk sekolah, Werner masih malu-malu dan sangat sensitif, tetapi tidak lama ia mulai percaya diri. Malah guru-gurunya semua mengakui bakat yang dimilikinya di hampir semua mata pelajaran terutama bahasa dan matematika. Heisenberg kecil memang suka sekali matematika. Ini disebabkan guru matematikanya, Christoph Wolff, selalu menantangnya untuk mengerjakan soal-soal matematika dan fisika yang tidak biasa.
Hooft si Kreatif
Untuk menjadi seorang ilmuwan handal yang mampu memberikan kontribusi penting dalam sejarah sains, seseorang memang perlu mengembangkan pemikiran kreatif yang jauh ke depan menjangkau apa yang tidak terpikirkan oleh umumnya orang. Inilah teladan yang ditunjukkan oleh Gerardus Hooft. Fisikawan kelahiran tahun 1946 di Den Helder, Belanda ini senantiasa membiasakan pikirannya diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan kreatif yang diajukannya sendiri yang kemudian mengantarkan dirinya ke panggung penganugerahan Nobel Fisika, suatu penghargaan paling bergengsi di bidang fisika, pada tahun 1999.
Chandrasekhar Fisikawan Ahli Bahasa
Chandrasekhar Fisikawan Ahli Bahasa Subramanyan Chandrasekhar, peraih nobel Fisika tahun 1983 dilahirkan di Lahore, India pada 19 Oktober 1910. Ayahnya, Chandrasekhara Subrahmanyan Ayyar adalah pegawai di departemen keuangan India. Sementara Ibunya, Sita (neé Balakrishnan) seorang ibu rumah tangga biasa namun berintelektual tinggi (ia mampu menerjemahan karya Henrik Ibsen, "A Doll House" ke bahasa Tamil). Kedua orangtuanya, menurut Chandrasekhar sangat menaruh perhatian pada pendidikan anak-anaknya.
14.5.12
Esaki sang Mediator
Tahun 1973, Jepang untuk yang ketiga kali menempatkan warganya dalam jajaran penerima Nobel Fisika, yakni Leo Esaki. Seperti kedua pendahulunya, Hideki Yukawa dan Sin-Itiro Tomonaga, pria kelahiran Osaka, Jepang pada 1925 ini melengkapi gelar sarjana hingga doktor di negdrinya sendiri. Hal ini seakan membuktikan bahwa tingkat kualitas pendidikan di Jepang memang sudah sangat tinggi begitupun dengan sumber daya manusianya.
Giacconi - si Peneliti Sinar X
Riccardo Giacconi, lahir di Genoa, Italia, pada tanggal 6 Oktober 1931, merupakan salah satu dari tiga ahli astrofisika yang mendapatkan hadiah Nobel Fisika tahun 2002. Kontribusi Giacconi yang membuatnya pantas mendapatkan penghargaan bergengsi tersebut berkaitan dengan penemuan sumber-sumber sinar-X kosmis.
13.5.12
Tomonaga Pantang Menyerah
Sin-Itiro Tomonaga, peraih Nobel fisika tahun 1965 tampaknya memang sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang tokoh ilmuwan terpandang. Ia memperoleh bakat ilmiahnya dari sang ayah Sanjuro Tomonaga yang merupakan profesor filsafat terkenal di Kyoto Imperial University. Pria kelahiran Tokyo, Jepang pada 31 Maret 1906 sebagai anak tertua ini memperoleh pendidikan berkualitas sejak masa kanak-kanak. Ia pun lulus dari the Third Higher School, Kyoto, sebuah sekolah terkenal yang telah melahirkan banyak tokoh ilmuwan maupun pemimpin bangsa di Jepang.
Abdus Salam – Orang Pakistan Peraih Nobel
"Penciptaan fisika merupakan warisan bersama seluruh umat manusia. Timur dan Barat, Utara dan Selatan, semua mempunyai saham yang sama di dalamnya." Kata-kata ini dinyatakan Abdus Salam, seorang peraih nobel fisika di depan peserta Simposium Universitas PBB, Kuwait, 1981. Ia menyampaikan hal ini untuk mengingatkan penduduk negara dunia ketiga yang merasa kalah bersaing di dunia ilmu pengetahuan karena kekurangan kesempatan dan sumberdaya. Fisikawan besar ini memang dikenal sangat peduli pada upaya memajukan sains terutama di negara-negara berkembang. Kepeduliannya itu sangat mungkin dilatarbelakangi pengalaman pahitnya menggeluti dunia sains di negerinya sendiri.
Raman si Pencinta Bunga Mawar
Di tengah komunitas ilmiah khususnya fisika, India adalah salah satu negara yang tak bisa dipandang remeh. Meskipun tingkat kemakmuran penduduknya belum dapat dikategorikan memuaskan, negara ini merupakan negara di asia yang pertama kali menempatkan warganya dalam jajaran pemenang hadiah Nobel Fisika. Pada tahun 1930, di antara nama-nama besar fisikawan Eropa seperti Max Planck, Albert Einstein, Niels Bohr, Arthur H. Compton, Werner Heisenberg dan lain-lain, tercatat nama Sir Chandrasekhara Venkata Raman sebagai penerima penghargaan paling prestisius dan berkaliber internasional untuk karya ilmiah di bidang fisika itu.
Koshiba Nilai Merah Mendapat Nobel
Selama beberapa tahun terakhir tempat kediaman Profesor Masatoshi Koshiba di Tokyo, Jepang, selalu diserbu oleh para wartawan yang ingin bersama-sama menunggu kabar dari Stockholm, Swedia, yang memberitahukan bahwa profesor kebanggaan bangsa Jepang itu telah memenangkan Nobel Fisika. Selama beberapa tahun pula berita kemenangan yang mereka tunggu-tunggu itu tidak kunjung datang.
11.5.12
Tsui si Pembelajar yang Tekun
Daniel Chee Tsui adalah seorang yang ilmuwan yang berjuang benar-benar dari nol. Ayah atau ibunya bukanlah seorang terpelajar. Mereka buta huruf dan tinggal dalam suatu desa yang sering dilanda kekeringan, banjir dan perang. Dengan kondisi dan keadaan keluarga seperti itu, rasanya mustahil bagi seorang Daniel Tsui dapat menjadi seorang ilmuwan ternama. Namun ketekunannya dan dorongan, pengorbanan serta kebaikan dari orang-orang sekitarnya telah membuat Daniel Tsui menjadi salah satu eksperimentalis fisika terbaik.
Yukawa si Ahli Nuklir
Tahun 1949, Hideki Yukawa yang meraih hadiah nobel di bidang fisika seakan menyampaikan pada dunia bahwa bangsa Asia juga menyimpan potensi besar di bidang sains. Ia menempatkan negerinya, Jepang sebagai negara di Asia kedua setelah India yang berhasil mendapat pengakuan dunia internasional dalam pencapaian yang mengagumkan dalam bidang riset fisika.
Yukawa dilahirkan tahun 1907 di Tokyo, sebagai anak ketiga dari Takuji Ogawa seorang profesor geologi di Kyoto Imperial University (sekarang Universitas Kyoto). Ia memperoleh gelar MS-nya dari Universitas Kyoto pada 1929 dan DSc (setara dengan S3) dari Universitas Osaka pada 1938.
10.5.12
Schwinger sang Professor Muda
Menarik sekali untuk menperhatikan berbagai tipe dan kisah hidup para peraih Nobel fisika. Ada yang ayahnya peraih Nobel fisika juga seperti Aage Bohr, ada yang ayahnya selalu memberi dia mainan sains seperti ‘t Hooft, ada yang sebelumnya tidak terlalu suka fisika seperti Veltman, ada yang terbujuk untuk pindah dari matematika ke fisika seperti Maria Goepert Meyer, ada yang disekolahnya tidak terlalu menonjol seperti Koshiba, tetapi ada juga yang dari kecil sudah terlihat sangat jenius, dialah Julian Seymor Schwinger.
Yang - Si Pekerja Keras
Tahun 1957, untuk pertama kalinya bangsa Cina masuk dalam jajaran peraih Nobel fisika. Chen Ning Yang bersama dengan kolega dekatnya Tsung Dao Lee dianugerahi penghargaan prestisius ini untuk penemuan penting mereka yang menyangkut fisika partikel. Anak pertama dari 5 bersaudara ini dilahirkan pada 1 Oktober 1922 di Hefei, Anhui, Cina. Yang memang beruntung dapat tumbuh di tengah atmosfer kehidupan akademisi Universitas Tsinghua, dimana ayahnya menjadi profesor matematika yang cukup terkenal.
9.5.12
Lee Jenius dari China
Tahun 1957, untuk pertama kalinya Cina menempatkan warganya dalam jajaran penerima hadiah Nobel Fisika. Tidak hanya satu melainkan dua orang sekaligus. Salah satu dari mereka tercatat hingga saat ini sebagai orang Asia termuda yang menerima penghargaan prestisius itu, ia adalah Tsung Dao Lee.
Anak ketiga dari enam bersaudara ini lahir di Shanghai, Cina pada 24 November 1926 dari pasangan Tsing Kong Lee seorang pebisnis dan Ming Chang Chang. Lee mendapatkan pendidikan menengahnya di Kiangsi Middle School, Kanchow dan lulus tahun 1943. Ia kemudian masuk Universitas Nasional Chekiang di propinsi Kweichow.
Gellmann Manusia Lima Otak
Murray Gell-Mann sering disebut sebagai pengganti Albert Einstein. Anak bungsu seorang imigran Austria ini dijuluki The Man with Five Brains karena kegeniusannya dalam hampir semua bidang ilmu pengetahuan dan kehidupan. Murray, yang dilahirkan di New York pada tanggal 15 September 1929, pernah mengkritik pemaparan teknik perhitungan matematika dalam sebuah textbook yang ditulis oleh Sylvanus P. Thompson pada saat ia masih berusia tujuh tahun. Saat ia masih berusia dua tahun, Murray kecil tiba-tiba mengucapkan kata-kata The Lights of Babylon pada waktu ia melihat lampu-lampu di jalanan kota New York. Pada hari ulang tahunnya yang ke-15, Murray memulai kuliahnya di Yale University dengan tujuan untuk mendalami arkeologi dan persoalan lingustik (bahasa).



















